penemuwa.jpg


Keduanya pernah melamar pekerjaan di Facebook, sayang mereka ditolak. Penolakan itu tidak membuatnya menyerah, malah memotivasi diri sendiri dengan mengetweet “Facebook menolak saya. Ini adalah kesempatan besar untuk berhubungan dengan beberapa orang yang fantastis. Menanti petualangan berikutnya dalam kehidupan.” Berkat ketekunannya, akhirnya karya dua orang ini yang dikenal dengan aplikasi WhatsApp justru dibeli Facebook senilai lebih Rp 35,3 triliun. Siapakah mereka?

 

Jan Koum

Koum lahir di Ukrania, 24 Februari 1976. Terlahir dari keluarga yang relatif miskin, dia pindah ke California, Amerika tahun 1992 bersama ibu dan neneknya. Ayahnya berniat menyusul ke California, tapi memutuskan tetap tinggal di Ukrania. Pertama kali tinggal di California, ibu Korum bekerja sebagai babbysitter, Koum sendiri bekerja sebagai penyapu toko kelontong. Umur 18 tahun tertarik dengan pemrograman dan masuk ke Universitas Negeri San Jose, bekerja volunteer keamanan di sebuah perusahaan audit besar Earnst and Young sebagai pengetes keamanan di mana dia bertemu dengan Brian Acton CO-Founder WhatsApp.

Tahun 1997, Koum bekerja di perusahaan Yahoo sebagai teknisi infrastruktur. Bersama Brian Acton kemudian bekerja di Yahoo. Mereka putus hubungan kontrak kerja dengan Yahoo September 2007, keliling Amerika Selatan dan bermain frisbee selama setahun. Suatu ketika, Korum membeli iPhone dan menyadari App Store akan menggebrek industri aplikasi dunia. Kemudian, berdiskusi selama beberapa jam bersama sahabatnya, Alex Fishman. Hasil diskusi itu, Koum memberi nama aplikasi WhatsApp yang terdengar seperti “what's up.” Menjelang 24 Februari 2009 Koum dan Acton mendirikan WhatsApp Inc.

 

Brian Acton

Brian menghabiskan banyak waktu di Michigan dan lulus dari Universitas Standford tahun 1994 dengan gelar sains komputer. Tahun 1992 dia menjadi administrator sistem Rocwell International sebelum menjadi pengetes produk Apple Inc. dan Adobe Systems, tahun 1996 direkrut oleh Yahoo.

Penampilan Brian di kantor begitu santai. Menggunakan kaos oblong dan bersandal jepit, Acton menghabiskan hari-harinya di kantor.

WhatsApp tanpa iklan adalah ide Acton. Dia meletakkan catatan kecil di meja Koum dengan tulisan “Tanpa Iklan! Tanpa Games! Tanpa Tipuan!.” Catatan tersebut sebagai pengingat harian agar WhatsApp fokus memberikan pengalaman mengirim pesan yang jelas tanpa embel-embel. (bbi/age dari berbagai sumber)