sawoong1


Sawoong semula hanya sebagai aktualisasi hobi menggambar dari Kuncarsono Prasetyo (38). Berdiri sejak 2008. Usaha ini semula hanya menjual cibderamata Surabaya. Proses produksi mulai sablon hingga jahit diserahkan ke rekannya. Kuncar panggilan akrabnya hanya mengirim desain yang dipelajarinya otodidak.

Alumni FISIP Unair ini awalnya mengikuti berbagai pameran untuk memasarkan produknya. Namun sejak 2009, dia mulai bisa menyewa stand open space di Cito Mall, sejak saat itu produksi meningkat. Ndilalah patnernya yang dipercaya produksi justru keteteran, kata Kuncar saat ditemui di tempat workshoopnya di Jalan Peneleh Surabaya.

Pertengahan 2009, dia mencoba membuat workshop clothing. Dengan modal 5 juta, Kuncar membeli satu set mesin jahit, peralatan sablon, dan menyewa garasi rumah tetangganya. Enam bulan produksi semakin deras. Klien pertamanya adalah House of Sampoerna. Pimpinannya, Ina Silas, kepincut dan mengajak Sawoong berjualan di Museum HoS. Semua produk HoS juga di produksi di workshop mini itu.

Tetapi perjalanan usaha ternyata tidak mulus. Sawoong diusir dari garasi rumah saat menginjak satu tahun. Padahal, masa sewanya kurang satu tahun lagi. Ini karena sang pemilik rumah tidak rela garasinya disewakan. Yang punya orang Jakarta, adiknya yang dipasrahi menjaga rumah sang kakak. Dan adiknya itulah yang menyewakan ke saya, ujarnya kecut.

Saat itu dia kelimpungan mencari tempat produksi. Akhirnya, Kuncar berhasil mendapatkan rumah kontrakan di kawasan Kalidami. Di situlah Sawoong tumbuh pesat. Dari seorang penjahit dan dua tukang sablon, jumlah pegawainya terus bertambah. Dia juga melibatkan ibu rumah tangga di sekitarnya untuk menjadi pekerja lepas.

Dia membentuk badan usaha, tempat penjualan juga bertambah yaitu di JMP 2, Terminal 2 Juanda dan Royal Plaza. Belakangan counter yang terakhir ditutup karena pertimbangan efisiensi.

 

kaos-sawoong

 

Tahun 2011, perusahaan ini makin berkembang. Banyak pesanan mengalir. Dia memisahkan menjadi dua unit bisnis. ritel dengan nama Sawoong dan pekerjaan custome made alias pesanan dengan nama Republik Kaos. Kuncar membangun tim marketing.

Aktif masuk di pengadaan instansi dan corporate. Dia juga membangun beberapa plasma dan inti plasma dengan model bantuan alat produksi. Pesanan yang masuk di Republik Kaos tidak hanya kaos, namun hampir semua barang promosi berbasis konveksi. Diantaranya kemeja, jaket, rompi, celana, tas, catlepack. Bahkan pernak pernik promosi seperti gantungan kunci, tumbler hingga magnet juga dikerjakan.

Pasarnya tidak hanya di Surabaya. Sawoong menjadi vendor beberapa perusahaan besar. Jaringan pemasarannya di Indonesia timur. Bahkan beberapa langgannya dari Timor Leste dan Australia.

Setahun lalu, dari keringatnya, Kuncar berhasil membeli properti usaha. Sebuah rumah kuno seluas 350 m2 yang berada di kawasan jalan Peneleh Surabaya dibelinya untuk tempat produksi. Sekarang gak ngontrak lagi, senyumnya.

Selain sebagai tempat produksi, rumah antik ini juga disiapkan menjadi ruang publik. Akan ada showroom cinderamata Surabaya, toko buku, hingga kafe. Dia kini dibantu 25 pekerja fulltimer dan hampir 60 pekerja lepas dari inti plasma. Dia rata rata setiap bulan sanggup merampungkan 10.000 pcs jenis pekerjaan garmen standar. Tahun 2016 target produksi meningkat 20 persen, ujarnya.

Omset per tahun juga merangkak. Hingga akhir November 2015 sudah membukukan omzet Rp 3,7 miliar. Sepanjang Tahun 2014 omsetnya Rp 3,1 miliar. Ini masih belum sesuai target, sementara saya sudah menambah investasi alat produksi dan properti sejak setahun lalu, tutupnya. (bbi/age/wh)