Kulina-1


Masalah utama dari bisnis kuliner bukan hanya bagaimana menyediakan makanan berkualitas dan tempat yang bagus dengan modal besar. Melainkan mencari orang-orang yang akan menikmati makanan tersebut.

Berkaca dari kondisi tersebut, Andy Fajar Handika, yang sebelumnya dikenal sebagai Founder Makan Diantarmelalui aplikasi Kulina, sebuah marketplace yang menghubungkan katering atau juru masak rumahan (dapur mitra) langsung dengan para pembeli

Kulina menggunakan sistem pre-order. Artinya pengguna harus memesan makanan sehari sebelumnya dengan minimal pemesanan tiga hari ke depan.

Kemudian untuk pembayaran selain menggunakan metode pembayaran melalui kartu kredit dan transfer bank. Kulina juga menerapkan sistem Wallet yang bisa diisi oleh pengguna terlebih dahulu, dan kemudian digunakan untuk bertransaksi.

Menariknya, Kulina juga menerapkan sistem kode promo pada Wallet seperti apa yang pernah dilakukan oleh GO-JEK. Jadi apabila kamu mendapat kode promo tertentu bisa disimpan ke dalam Wallet.

Setiap pengguna juga mempunyai kode unik personal yang bisa dibagikan kepada teman-temannya melalui media sosial untuk mendapatkan saldo Wallet senilai Rp 25,000. Pemilik kode juga akan mendapatkan saldo tambahan dengan nominal yang sama apabila ada kode promo tersebut digunakan.

Hal menarik lain yang saya temukan di aplikasi Kulina adalah layanan konsumen yang selalu sedia menjawab berbagai pertanyaan kamu seputar layanan ini.

Sejauh ini, Andy mengklaim telah menerima 300 lebih pendaftaran yang berminat sebagai sebagai dapur mitra. Akan tetapi mengingat terdapat proses seleksi dan kurasi, belum banyak menu makanan yang tersedia di aplikasi Kulina.

Disinggung mengenai model bisnis. Andy mengungkapkan bahwa Kulina akan mengambil komisi sebesar 15 persen dari setiap pesanan makanan ke dapur-dapur yang telah bekerja sama dengan Kulina.

Ia bisa dibilang seorang serial entrepreneur di bisnis kuliner. Andy sempat mendirikan restoran fisik yang bernama FoodFezt pada tahun 2007 di Yogyakarta. Kemudian beralih ke binis online dengan mendirikan Makandiantar, layanan delivery makanan di kota yang sama pada pertengahan tahun 2014 lalu. Dan tahun ini Andy fokus mengembangkan Kulina di Jakarta.

Dengan Kulina, Andy mencoba memecahkan masalah orang-orang yang suka memasak dan ingin memulai bisnis kuliner.

Mendirikan bisnis kuliner seperti restoran memerlukan biaya yang besar untuk menyewa dan membangun restoran. Belum lagi urusan pengelolaan dapur dan melakukan marketing untuk menarik pengunjung.

Problem inilah yang ingin dipecahkan Andy melalui Kulina. Jadi siapapun yang mempunyai dapur dan mempunyai kemampuan memasak makanan lezat bisa memulai bisnisnya melalui Kulina, tutur Andy kepada Tech in Asia.

Disamping itu dengan sistem pre-order, dapur mitra menjadi lebih efisien dalam mengelola inventori mereka. Karena mereka hanya akan memasak sesuai pesanan.

 

Kulina-2

 

Persaingan Bisnis Kuliner yang Ketat

Startup on-demand delivery makanan bisa dibilang kian menjamur di tanah air. Beberapa startup yang menjadi kompetitor Kulina secara langsung maupun tidak adalah layanan catering online seperti Berry Kitchen dan Black Garlic. Begitu juga layanan delivery makanan seperti GO-FOOD, Klik-Eat, dan FoodPanda.

Bagaimanapun Andy mengungkapkan bahwa ia menargetkan target pengguna yang berbeda dengan layanan on-demand delivery makanan yang tersedia di pasaran sekarang.

Andy mengungkapkan bahwa dengan sistem pre-order Kulina, mereka (para pengguna) punya pilihan untuk bisa merencanakan dengan lebih baik makanan apa yang akan mereka konsumsi hingga beberapa hari ke depan.

Sistem ini mungkin bisa menjadi solusi bagi orang-orang yang ingin makan teratur. Akan tetapi bagi kamu yang ingin layanan on-demand delivery makanan di waktu yang sama, rasanya Kulina bukanlah solusi yang cocok bagi kamu.

Ingin mencoba memesan makanan melalui Kulina? Coba di sini.