Start-Surabaya-Talkshow


Start Surabaya sebagai wadah bagi para pelaku startup di Surabaya mengadakan talkshow bertajuk “Start Surabaya Talkshow Tech World Coach Of Silicon Valley”. Acara tersebut diadakan di Gedung Spazio Surabaya.

Okta Ramayana, Co-founder Qomet yang hadir sebagai pembicara, mengatakan jika untuk merintis perusahaan startup harus memiliki value yang jelas.
“Dengan visi dan misi yang jelas, kita tidak akan dibuat galau oleh keadaan yang kita hadapi dalam melakoni usaha kita ini,” ungkap dia dihadapan puluhan pelaku startup yang hadir.

Kata dia, dalam membangun bisnis startup ini, pelaku usaha harus melakukan riset market, strategi pemasaran, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan untuk dapat mempertahankan perusahaan yang kita dirikan.

“Selain itu, dalam menjalani usaha ini, kita harus mampu mengubah mindset atau pola pikir kita,” papar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Bobby Amiri, Global Marketing & Business Development Executive GSVlabs yang berasal dari Silicon Valley, mengatakan jika kita telah memutuskan menjadi pelaku startup konsekuensinya harus terus meng-upgrade kemampuan diri.

“Karena dengan terus mengembangkan diri, maka perusahaan yang kita kembangkan itu dapat terus bertahan. Terlebih, dunia saat ini sangat menuntut adanya inovasi dan ide-ide kreatif,” ungkap dia.
Dia juga menjelaskan bagaimana Silicon Valley menjadi salah satu daerah yang mampu mempengaruhi perkembangan yang ada di dunia saat ini. “Di Silicon Valley, banyak ditemukan orang-orang yang memiliki pemikiran yang brilian. Namun, yang lebih penting dari ide brilian adalah bagaimana cara kita mewujudkannya,” jelas Bobby.

Ia mencontohkan, salah satu perusahaan yang memproduksi kamera, yaitu Kodak. Mereka merasa cepat puas ketika mereka menciptakan kamera digital. Ketika itu, mereka tidak mau mengembangkan diri mereka dengan cara mengembangkan produk yang mereka ciptakan.

“Sehingga saat ini mereka kalah bersaing dengan perusahaan yang dapat mengembangkan produk kamera yang awalnya adalah produk yang mereka ciptakan itu,” terang dia.

Ia melanjutkan, kesalahan perusahaan itu adalah mereka berpikir ketika mereka dapat menemukan dan menciptakan sebuah produk mereka bakal selalu dikenang. Namun, dunia bakal selalu berubah. “Mereka yang tidak mau mengembangkan diri, bakal tertinggal,” tandas dia. (bbi/wh)