agus wahyudi


Ada pertanyaan menggelitik dilontarkan seorang pengusaha muda asal Jakarta, saat ngobrol bareng di sebuh kafe di Surabaya. Dia bilang, “Keberhasilan bisnis datangnya paling besar dari sentuhan di sana.” Tangannya lalu menunjuk langit.

Kata dia, manusia takkan bisa menjamah kapan datangnya rezeki. Meski, ia tahu secara kalkulatif akan mendapat keuntungan. Makanya, saran dia, di samping berusaha sebaiknya memperbesar kegiatan filantropi. Di mana seseorang bertindak mencintai sesama manusia. Yang rela menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya buat menolong orang lain. Singkat kata: suka beramal.

Masih kata dia. Menghitung hasil bisnis bukan seperti matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang menemukan keseimbangan antara tanggung jawab ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam setiap aktivitasnya.

Lontaran pengusaha muda itu disanggah rekan bisnisnya. Dia amat yakin, usaha dan kerja keraslah penyebab kesuksesan. Seperti lazimnya diktum yang diyakini banyak orang: hasil tak pernah mengkhianati usaha. Makin besar usaha, makin besar peluang dan keuntungan yang bakal direnggut. Makin besar potensi kemalasan, makin kecil raihan yang didapat. “Bagaimana bisa membantu orang jika urusan perutnya sendiri belum beres,” sanggahnya.

Dua sudut pandang itu jadi topik diskusi yang gayeng. Namun keduanya pun sepakat pada satu polarisasi, jika bekerja keras wajib karena hal itu bagian dari ikhtiar. Soal hasilnya, sandarkanlah kepada Sang Pencipta.

Banyak orang kaya yang tak pernah melewatkan kegiatan filantropi. Sebut saja Mark Zuckerberg, pemilik Facebook. Di usia muda dia sangat tajir. Mark mendermakan kekayaannya USD 45 miliar atau setara Rp 618 triliun untuk kepentingan sosial. Bahkan, pascakelahiran anak pertamanya, Mark juga berkinginan mewakafkan 99 persen sahamnya melalui yayasan yang dibentuknya, Chan Zuckerberg Initiatives.

Keputusan Mark Zuckerberg sepertinya juga mengikuti kaum filantropis lainnya. Satu di antarnya Warren Buffett, George Soros, dan Bill Gates. Para miliarder tersebut sudah lebih dulu mewakafkan kekayaannya untuk aktivitas kemanusiaan.

Saya tiba-tiba teringat pengalaman seorang kawan. Namanya Basuki Subianto. Ia pengusaha properti yang mengembangkan bisnis di Surabaya dan Sidoarjo.

Basuki adalah mantan jurnalis koran terbesar di Indonesia. Dia memutuskan meninggalkan profesi yang ditekuni belasan tahun dan terjun ke bisnis property. Pengalaman? Gak ada sama sekali tak punya pengalaman. Basuki hanya mengandalkan modal relasi yang dikenal selama 17 tahun jadi jurna;lis dan sedikit modal dari pesangon.

Basuki sadar, keputusannya mengajukan pensiun dini dari perusahaan surat kabar itu sangat berisiko. Sebab, Basuki harus rela kehilangan take home pay Rp 17 juta sebulan atau Rp 204 juta per tahun. Sebaliknya, ia dapat uang pensiun hampir Rp 400 juta. Dari uang pensiun itu, ia sisihkan untuk dizakatkan dan disedekahkan.

Lantas, kenapa nekat mengambil keputusan pensiun? Jujur saja saya tertantang untuk membuktikan jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Pada akhirnya, dia pun seperti telah memasuki pintu yang benar dalam perjalanan di ruang uji nyali.

Kebulatan hati itulah membuat Basuki mantap melangkah. Dia pensiun dan akan memulai jadi pebisnis. Dan, uji nyali harus dijalani. Basuki punya gagasan mengakuisisi sebuah perusahan real estate di Surabaya. Sebelum mengambil, Basuki beristikharah, Intinya ia meminta bila diridhai bisa dimudahkan menangani perusahaan. Akan tetapi bila tidak, ia minta dijauhkan.
Perusahaan itu punya izin mengelola tanah seluas 73 hektar, tapi baru dibuat site plan-nya seluas 15 hektar. Tanah yang dibebaskan sekitar 4 hektar. Perusahaan itu sudah setahun mangkrak. Padahal, sudah ada 120 rumah yang terbangun. Pemiliknya orang Jakarta yang hanya sempat mengelola dua bulan. Kemudian ditinggal pergi karena perusahaan ini ternyata punya persoalan yang sangat rumit.

Ceritanya, sekitar tahun 1985, tanah itu sudah dijual oleh pemiliknya dalam bentuk tanah kavling, masing-masing seluas 200 meter persegi. Pada 1998, seorang pengusaha mengajukan izin prinsip ke Pemda Surabaya sekaligus site plan-nya. Setiap pemilik kavling bisa mengambil rumah dengan tambahan biaya. Masyarakat umum juga boleh membeli, cetus Basuki.

Namun, karena site plan dari Pemkot Surabaya dengan site plan tidak resmi yang dibuat pengavling dulu tak sama, terjadilah tumpang tindih. Dan site plan pemkot yang diberlakukan. Pejualan rumah laris manis karena harganya miring. Namun, langkah pengusaha kurang beres. Dana yang masuk sebagian besar tidak digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah, melainkan untuk kegiatan lain. Singkatnya, banyak tanah yang belum dibebaskan, tapi sudah dibangun rumah. Celakanya lagi, sebagian kontraktor tak tidak dibayar. Total utang perusahaan itu sekitar Rp 11 miliar.

Basuki tahu detail persoalan itu dan akan mengakuisisinya. Dia lalu berkonsultasi dengan para pengembang sukses dan pejabat Badan Pertanahan Negara (BPN). Semua menyarankan Basuki tak mengambil risiko berbisnis perusahaan bermasalah itu.

Basuki merenung panjang, Apa mungkin? Keputusan bulat, Basuki mengambil risiko tetap mengakuisisi perusahaan itu! Pelan tapi pasti, Basuki membenahi manajemen perusahaan. Tak mulus, tentunya. Karena Basuki menuai banyak tuntutan dari para user yang telah membayar uang cicilan. Basuki mencoba bersabar. Hingga dua tahun berjalan, Basuki tetap bertahan. Utang yang semula Rp 11 miliar itu akhirnya tertutupi dari pendapatan sebesar Rp 9 miliar. Itu artinya, tiap bulan Basuki untung Rp 2 miliar.

Dari mana? Ya dari jual beli tanah. Semisal ada tanah yang dijual seharga Rp 60 juta, ia membelinya. Lantas tanah itu ia jual lagi Rp 90 juta. Saya untung Rp 30 juta. Itu terjadi berulang kali.

Basuki sendiri tak pernah tahu dari mana datangnya rezeki yang diperoleh dan kemudahan menangani perusahaan bermasalah. Yang dia sebut itu ada tangan-tangan Sang Pencipta. Lalu, bagaimana dengan kita? (*)

*Agus Wahyudi, pemimpin redaksi enciety.co