scundo


Trader yang satu ini cukup bergaung di dunia trader Indonesia. Namanya sempat melejit sekitar tahun 2010 – 2012. Pendiri Fxpod International ini terkenal dengan seminar-seminar yang diselenggarakan melalui Fxpod Workshops di kota -kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lainnya di Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand hingga China.

Secundo Lee besar di Jakarta, bekerja  sebagai tenaga ahli pemrograman IT.

Dia juga menerbitkan sebuah buku trading berjudul “The Lazy Way Of Forex Trading”.  Buku ini sempat meledak penjualannya yang berisi hasil investigasi tentang akar masalah kegagalan para trader secara rinci.

Secundo Lee juga aktif melakukan kegiatan sosial masyarakat, khususnya bencana alam. Lee juga peduli saat ada bencana Gunung Merapi tahun 2010 di Yogyakarta.

Dalam Buku “The Lazy Way Of Forex Trading”, Lee ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa trading itu mudah, akan tetapi perlu komitmen dan solusi yang cerdas untuk memprediksi pasar, selain pengetahuan tentang 3 M (Metode, Money, dan Mindset), dia juga mengajarkan bagaimana menggunakan Algoritma Chartist EA sebagai parameter memprediksi pasar.

Selain Algoritma Chartist EA, Secundo Lee juga memiliki teknik trading lainnya, seperti CATS, COMMO, Hayabusa, Composite dan juga Bulletproof.

Dengan backgroundnya sebagai seorang IT, penguasaan komputer menjadi nilai tambah pada dirinya. Membaca bukunya “The Lazy Way Of Forex Trading” terasa ada nuansa yang berbeda dari buku-buku trading pada umumnya. Lebih smart, ilmiah, lugas, dan detail.

Legenda trading dari Indonesia ini telah meninggal dunia pada 12 September 2016 yang silam karena kecelakaan paralayang, akan tetapi namanya cukup di kenang di kalangan trader Asia hingga saat ini.

Warisan berharga dari Lee adalah murid-muridnya yang kini meneruskan cara trading ala Lazy Lee. Salah satu murid senior Scundo Lee yang hingga kini konssten meneruskan konsep trading ala Lazy dari Lee adalah Peggi David. (bbi/age dari berbagai sumber)

 

iklan JT