PT Sarana Multiguna Finansial (Persero) ditargetkan menyalurkan dana Rp9,7 triliun untuk kredit perumahan tahun ini, meningkat 34,7% dibandingkan penyaluran pada 2017 yang mencapai Rp7,2 triliun.

Sarana Multiguna Finansial (SMF) optimistis dapat memenuhi target ini seiring dengan semakin tingginya permintaan hunian, khususnya rumah pertama bagi kalangan menengah ke bawah yang memang menjadi sasaran bisnis perseroan.

“Karena permintaan rumah yang banyak, SMF enggak bisa sendiri [memenuhi permintaah pembiayaan kredit perumahan]. Backlog saja sudah mencapai angka 12 juta,” kata Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo kepada Bisnis, baru-baru ini.

Kendati demikian, dirinya menekankan peran bank-bank daerah sangatlah penting dalam menyalurkan dana yang mereka miliki. Pasalnya, SMF hanya bertindak sebagai perusahaan pembiayaan sekunder perumahan yang tidak bisa menyalurkan dana langsung ke masyarakat, tapi harus melalui perbankan.

Saat ini, lanjut Ananta, dari 27 bank daerah yang ada di Indonesia dan telah menandatangani nota kesepahaman penyaluran kredit perumahan, baru 11-12 bank yang ikut berperan aktif dan porsinya pun masih sangat kecil. Untuk itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dminta untuk bisa berperan lebih besar dalam penyaluran kredit perumahan yang menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat Indonesia.

Tak hanya bank, para pemilik saham di perbankan juga diminta untuk ikut mendorong realisasi penyaluran kredit perumahan oleh BPD.

“Kalau kami bilang bahwa untuk KPR setiap BPD itu sudah rajin, belum juga. Karena kan dari total tadi, dari kredit KPR program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), kan BPD itu totalnya cuma sekitar 3%, masih kecil sekali. Itu harus bisa ditingkatkan,” tambahnya.

Untuk mendukung keikutsertaan BPD, selain menjadi penyedia dana pinjaman jangka panjang berbiaya rendah, SMF juga telah menyusun SOP untuk mempermudah bank-bank yang belum pernah terjun ke bisnis ini. Bentuknya adalah pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM) perbankan.

Di samping angka kredit macet yang rendah untuk sektor perumahan yang digarap perseroan, Ananta menuturkan potensi bisnis yang dimiliki juga besar seiring besarnya anka backlog perumahan di Indonesia.

“Sangat besar, BPD ada 27 dari setiap daerah. Kalau masing-masing 20% atau 30% dari total kreditnya masuk ke KPR, sudah berapa yang serap tuh jumlah rumahnya? [Kerdit macet] enggak juga. Justru kredit kalau yang namanya KPR, apalagi rumah pertama, itu sama sekali jarang macet, NPL-nya itu yang paling kecil,” ungkapnya.

Hingga 2017, SMF telah menyalurkan dana sebesar Rp35,63 triliun kepada para penyalur KPR yang terdiri atas Rp27,47 triliun pinjaman dan Rp8,15 triliun sekuritisasi.

Sementara itu, Direktur Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lana Winayanti menyebutkan ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab tingginya backlog perumahan di Indonesia. Di antaranya ketersediaan rumah yang masih belum memadai, kualitas rumah di bawah harapan, serta daya jangkau masyarakat yang semakin lemah karena harga rumah yang semakin tinggi.

“Harga rumah yang semakin meningkat bukan hanya karena harga bahan yang meningkat. Namun, juga karena tanah yang semakin mahal dan lokasinya yang sulit,” jelasnya.

Di sisi lain, ada pula faktor belum optimalnya pemanfaatan sumber dana seperti pembiayaan sekunder oleh perbankan. (bbi/age sumber: finansialbisnis.com)