diah-cookies


Kerja keras, ulet, cermat membaca peluang. Itulah salah satu syarat menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang ingin meraup hasil maksimal. Seperti yang dilakukan Diah Arfianti, owner Diah Cookies. Berbekal keuletan, ibu tiga orang anak ini mampu mendulang jutaan rupiah dari menjual kue kering. Baik penjualan dengan cara konvensional maupun lewat dunia maya.

Hasil yang digapai saat ini bisa jadi karena kondisi yang memaksa untuk bertindak. Tepat pada tahun 2010, ia nyaris putus asa. Gara-garanya, suaminya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja.

“Saat itu saya sangat bingung cari pemasukan agar mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Lalu dengan modal seadanya yang jumlahnya hanya Rp 500 ribu, saya juala kue kering,” urai dia ditemui di bengkel produksi yang sekaligus menjadi rumah dan tokonya di Jalan Ketandan Baru II, Surabaya, Rabu (5/10/2016).

Awal merintis, Diah sempat tidak yakin apakah produk kue keringnya bisa laku. Apalagi produk yang dibuatnya banyak dijual di pasaran. Variannya juga sangat beragam.

Namun Diah nekat saja. Karena dia yakin rezeki bisa datang dari arah mana saja. Yang berusahan dan terus berusaha. Tidak ada salahnya untuk mencoba.

images

Langkah pertama yang dilakukan Diah adalah menitipkan kue keringnya di beberapa toko di kawasan Ketandan. Selain itu, dia juga menawari kawan-kawan lamanya lewat WA dan BBM.

Namanya usaha, ada yang laku, ada juga yang kembali. Diah menginsyafi hal itu sebagai sebuah proses yang harus dilakukan. Paling tidak, ia juga banyak mendapat masukan terkait keu kering yang dibuatnya.

Hasil yang diperoleh dari penjualan kue kering ia kumpulkan, sebagian dipakai untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, sebagian dipakai untuk biaya produksi. Jika memang ada uang lebih, Diah harus berhemat dengan cara menabungnya.

Usaha terus berjalan. Diah sadar, ada momen-momen bagus untuk menggenjot produksi. Di antaranya Hari Raya Idul Fitri, perayaan Natal dan Tahun Baru.

Benar saja, penjualan kuenya meningkat pada momen-momen tersebut. Yang menggembirakan lagi, di luar hari besar itu, pembeli kuenya mulai bertambah, berikut juga pesanan. “Saya bersyukur, ternyata kue kering tiap hari ada saja yang beli,” cetus dia.

Diah menuturkan, agar mendapat hasil lebih besar ia harus masuk pasar kelas menengah atas. Ia lantas menawarkan ke beberapa instansi dan ada juga yang mau membeli.

“Saat ini saya punya beberapa langganan dari beberapa kantor di Surabaya. Di antaranya Bank Mandiri Pondok Tjandra, Bank Mandiri Basuki Rachmad dan lain sebagainya,” terang dia.
Ikut Pelatihan Pahlawan Ekonomi

Tahun 2012, Diah diajak tetangganya ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi. Ajakan itu ia sambut dengan hangat. Pasalnya, selain ingin mengasah ketrampilan, dia juga ingin menambah banyak kawan dan jaringan.

“Sebelumnya saya tahu ada Pahlawan Ekonomi sebagai wadah bagi para pelaku UKM di Surabaya,” katanya.

Setelah bergabung Pahlawan Ekonomi, Diah menangkap peluang besar untuk mengembangkan usahanya. Sebab, dalam pelatihan Pahlawan Ekonomi yang saban minggu di Kaza City, Diah mendapat kesempatan untuk mempertajam kemampuan. Banyak pelatihan yang diikuti di antaranya internet marketing, inklusi keuangan, instrument investasi, marketing and packaging, e-commerce, dan masih banyak lagi.

“Senangnya, semua pelatihan yang saya ikuti itu tanpa dibebani biaya sepeser pun, gratis, tis,” katanya.

Bahkan yang terakhir, Diah mendapat pengalaman berkesan karena ikut pelatihan Facebook Fanpage. Setelah dicoba, ia surprise karena barang yang diposting di Facebook direspons pembeli. Ia pun bisa langsung melayani. Untuk wilayah Surabaya, barang yang laku dikirim sendiri. Sementara untuk pemesan luar kota, ia kirim via jasa ekspedisi.

“Saya bersyukur sekali, penjualan lewat Facebook lumayan banter. Setiap hari ada saja yang pesan, alhamduliilah,” tutur Dia, lalu tersipu.

Kata dia, dulu omzet pejualan konvensional paling besar. “Sekarang kebalik, 70 persen produk saya terjual melalui Facebook. Contohnya hari ini, saya mampu menjual 30 toples,” ungkapnya.
Dia mengaku, sehari dia bisa menjual 200-300 toples kue kering. Untuk satu toplesnya, dirinya membanrolnya dengan harga bervariasi, ada yang Rp 30 ribu, Rp 75 ribu, dan Rp 90 ribu per toples. Harga itu sesuai varian kemasannya. Untuk toples paling kecil 250 gram, ia membandrol Rp 30 ribu.

Saat ini, dibantu dua asistennya, Diah mampu menghasilkan 100 buah toples kue kering per hari. Jika ada pesanan bisa 200-300 toples per hari. Yang membahagiakan bila Lebaran atau Natal, ia mampu membuat 1.500-2.000 toples setiap harinya. Semua produknya bisa ludes terjual hanya dalam seminggu.

Ke depan, Diah bercita-cita memajukan usahanya dengan meningkatkan kapasitas produksi. “Tahun depan, saya ingin beli oven yang harga Rp 42 juta. Sekarang saya masih nabung. Dengan oven itu, saya dapat nambah kapasitas produksi dua kali lipat dalam sehari,” ucap dia. (bbi/age sumber wh/enciety.co)