derivatif-1024x576


Apakah Perdagangan Derivatif itu?

 

Derivatif jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti “Turunan”.

Dalam konteks keuangan dan perbankan, secara sederhana, Derivatif adalah sebuah kontrak kerjasama antara dua pihak (pembelian, pembayaran, penjualan, pengiriman dsb), yang dapat dialihkan (diperjualbelikan) pada pihak lain.

Untuk memudahkan memahami “perdagangan Derivatif” ini, dan melihatnya sebagai perdagangan seperti pada umumnya, saya akan memberi sebuah ilustrasi sederhana sebagai berikut :

ILUSTRASI PERTAMA:

Tuan A adalah seorang peternak telur. Rata-rata memproduksi 1000 butir telur per bulannya.

Tuan B, adalah seorang pengusaha katering, ia mendapat order untuk menyediakan 500 porsi telur balado di awal bulan depan.

Tuan B inipun mendatangi Tuan A dan memintanya untuk menyediakan 500 butir telur di awal bulan depan.

Kontrak perjanjian order-supplier pun ditandatangani. Harga disepakati Rp 500.000 untuk 500 butir telur, dikirim awal bulan depan. Dibayar tunai.

Pertanyaan:

  1. Apakah transaksi ini legal dan halal?– Tentu saja ini legal dan halal.
  2. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

Berapapun kenaikannya, Tuan A sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Tuan A sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harganya.

  1. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur Tuan A merosot dan tidak dapat menyediakan 500 butir telur tersebut?

Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Tuan A wajib mengirim Tuan B sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya Tuan A harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut.

Dan Tuan A memang sudah punya rekanan-rekanan sesama produsen telur, tempat ia biasa untuk saling melempar stok dan supply.

ILUSTRASI KEDUA:

Karena Tuan B pandai dalam bergaul maka ia memiliki banyak relasi.

Banyak rekannya sesama pebisnis katering yang datang pada Tuan B untuk minta dicarikan supplier telur.

Maka Tuan B pun memutuskan untuk menambah line bisnisnya bukan hanya catering saja, tapi juga supplier untuk produk telur.

Maka ketika seorang relasi Tuan B yaitu Tuan C, yang juga sesama pebisnis katering, meminta Tuan B untuk mencarikan stok 500 butir telur untuk awal bulan depan. Tuan B pun segera beraksi. Ia pun mengontak Tuan A untuk memesan lagi 500 butir telur untuk awal bulan depan. Sehingga ia memiliki 2 pesanan 500 butir telur.

Karena tempat usahanya kecil, akan merepotkan jika ia harus menumpuk 1.000 butir telur dan mengurus pengirimannya, maka Tuan B pun menawarkan pada rekannya (sebut saja Tuan C) untuk membeli saja “Kontrak Pemesanan” 500 butir telur yang sudah dimilikinya, seharga Rp 600.000.

Tuan C pun tidak berkeberatan, karena ia memang membutuhkan supplier produk telur untuk jangka panjang.

Maka Tuan B segera menghubungi Tuan A untuk menginformasikan bahwa stok 500 butir telur yang pertama dikirim ke tempat Tuan C, dan yang kedua dikirim ke tempatnya.

Dengan menjual (mengalihkan) Kontrak Pemesanan ini, maka urusan Tuan B sebagai supplier akan lebih mudah. (Disini telah terjadi perdagangan derivative telur dari Tuan B ke Tuan C)

Tuan B, tidak perlu direpotkan dengan masalah penempatan stok dan pengiriman, namun ia juga tetap memperoleh laba (Rp 100.000).

Tuan A yang memang sedang meningkatkan produksinya pun senang, karena ia bisa menjual produksi telurnya lebih banyak lagi.

Tuan C pun tidak kuatir, karena siapapun yang memegang kontrak itu berhak atas 500 butir telur dari Tuan A. Semua pihak senang.

Pertanyaannya :

  1. Apakah transaksi dan perdagangan ini legal dan halal?– Tentu saja ini legal dan halal. Masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan hak-haknya.
  2. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

Berapapun kenaikannya, Pembuat kontrak tersebut (Tuan A) sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Tuan A.  sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harga.

  1. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur peternak merosot dan tidak dapat menyediakan sejumlah telur sesuai kontrak tersebut?

Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Tuan A harus mengirimkan sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya Tuan A harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut.

ILUSTRASI KETIGA:

Tuan B semakin berkembang usaha supplier-nya. Selain klien pembelinya semakin banyak, omsetnya semakin besar, peternak telur yang ingin menyalurkan produksinya ke Tuan B pun semakin banyak.

Karena kapasitas order semakin besar (misalnya saja ada 500 perusahaan katering dan ada 500 peternak telur di bawah koordinasinya), maka Tuan B mengatur alur perdagangan agar lebih efektif dan efisien.

Jika sebelumnya semua stok yang dibelinya dari peternak-perternak dikumpulkan di gudangnya baru kemudian dikirim ke masing-masing pembeli, maka agar lebih efisien ia langsung menawarkan (menjual) Kontrak Pemesanan dari produsen-produsen telur yang sudah dibayarnya, pada perusahaan-perusahaan katering yang berminat.=è Konsep pasar derivatif

Ketika seseorang membeli sebuah kontrak Pemesanan, maka semua hak Tuan B akan beralih ke orang tersebut (ia berhak atas stok telur dalam jumlah tertentu pada tanggal tertentu).

Dengan demikian Tuan B tidak lagi repot mengurus masalah stok dan pengirimannya. Ia akan fokus pada masalah mencari buyers dan menghimpun producers.

Pihak produsen telur juga sangat diuntungkan. Karena dengan adanya kontrak tersebut, selain ia menerima pembayaran di awal yang berarti ia memiliki tambahan modal, ia juga diuntungkan karena setiap produksinya sudah pasti terjual.

Pertanyaannya:

  1. Apakah ini legal dan halal?

Produk jelas: telur, harga juga jelas: sesuai kontrak, dan masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan hak-haknya. Tentu saja ini legal dan halal.

  1. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

Berapapun kenaikannya, pembeli kontrak tersebut sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Peternak yang membeli kontrak sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harga.

  1. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur peternak merosot dan tidak dapat menyediakan sejumlah telur sesuai kontrak tersebut?

Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Pembuat kontrak wajib harus mengirimkan sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya pemegang kontrak harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut.

ILUSTRASI KEEMPAT:

Suatu ketika harga telur melonjak. Tuan B dibanjiri order, hingga sudah tidak ada lagi Kontrak Pemesanan yang ia pegang. Produsen telur pun banyak yang menolak untuk melakukan Kontrak Pemesanan dengan harga yang lama.

Tuan C yang kebetulan memegang beberapa Kontrak Pemesanan dari Tuan B, berniat menjualnya pada Tuan D yang sedang membutuhkan stok telur. Tentu saja dengan harga saat ini. yang berarti dua kali lipat dari harga ketika ia membelinya dari Tuan B sebulan yang lalu.

Tuan D pun membeli Kontrak Pemesanan tersebut.

Kemudian karena para pengusaha katering lainnya mendengar Tuan B masih memiliki stok, mereka pun segera menawar Kontrak Pemesanan yang dimiliki Tuan C, bahkan dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Di saat lonjakan harga itu, Tuan C bisa mendapat keuntungan besar dari menjual kembali beberapa Kontrak Pemesanan yang ia beli dari Tuan B.=> Konsep Trading di Perdagangan Derivatif

 Apakah transaksi ini legal dan halal?

Jawabanya adalah sama seperti jawaban sebelumnya.

Dari empat ilustrasi tersebut, kita tentunya memahami bahwa “perdagangan Derivatif” adalah perdagangan nyata.

Bukan perdagangan barang-barang semu. Bukan pula judi, spekulasi mengandalkan nasib baik maupun nasib buruk. Semua terjadi dikarenakan factor supply and demand.

Dalam kuantitas yang besar dan cakupan yang besar, orang tidak lagi bertransaksi sebagaimana membeli permen di warung. Ini adalah bentuk alur transaksi perdagangan yang sangat efisien, akibat dari kemajuan dan perkembangan perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi membuat sistem produksi dan perdagangan semakin terspesialisasi. Kita tidak bisa lagi mensyaratkan bahwa jual beli harus “nyata” dalam arti bisa dilihat wujudnya, pembeli bertemu langsung dengan penjual, atau pembayaran langsung diserahkan bersamaan dengan barang”.

Kegiatan ekspor-import misalnya, akan sulit untuk dibayangkan bila harus dilakukan dengan cara pembeli dan penjual harus bertemu langsung berikut puluhan kontainer barang yang dipesan dan beberapa truk uang kontan yang harus dibawa.

Didalam masyarakat, perdagangan derivative yang “tidak nyata” ini seperti pembelian pulsa dan data paket.

Apakah pembeli dapat memegang pulsa tersebut? Seperti apakah pulsa dan dan data internet tersebut? Saya yakin tidak ada yang dapat menyebutkan bentuk dari pulsa. Memang pembelian pulsa bisa dilihat dalam bentuk kertas yang berisi 16 angka, tapi itu bukanlah bentuk dari pulsa itu sendiri.

Saat ini, Produk-produk yang diperjualbelikan dalam perdagangan derivatif pun semakin berkembang, bukan hanya kontrak pembelian, tapi juga kontrak investasi, kontrak hutang, kontrak pemilikan aset, kontrak komoditas,dsb

Semoga artikel ini dapat membantu sobat trader untuk lebih mengerti dan mengenal apa itu perdagangan derivative.

Salam profit. (bbi/chy)

Jika Anda menginginkan informasi lebih lanjut mengenai Trading futures, dapat menghubungi kami :

Cahyadi (Telp/ WA : 08122 3045 6757)

banner web